Selasa, 10 Mei 2016

Jatuh

Aku ingin jatuh sekali lagi.
Melemparkan diriku pada pusat gravitasi.
Membiarkan raga ini dipeluk erat oleh semesta,
Sementara jiwaku terbang mengawang di angkasa.

Aku ingin jatuh.
Sekali lagi.

(Pontianak, 10 Mei 2016)

Kamis, 05 Mei 2016

Halo! :)

Halo! :)
Udah setahun lebih 25 hari saya nggak nge-blog.
Hmm, udah berapa purnama, tuh, kira-kira? XD
Efek nonton AADC2 nih, kayaknya, apa-apa mau dihitung dengan purnama :))

Anyway, dalam waktu yang lumayan panjang ini ada banyak hal yang terjadi.
Salah satunya saya (akhirnya) udah selesai kuliah *yay* dan bulan Maret yang lalu ada jalan-jalan ke salah satu kota impian saya. Tenang, saya akan bahas di postingan selanjutnya :)

Dan hari ini saya coba mengubah tampilan blog saya. Rencananya siiih mau dibikin kayak blog-blognya blogger yang kece-kece ituu. Tapi apalah daya, saya ngga ngerti :(
Dan akhirnya jadi seperti tampilan yang bisa dilihat sekarang ini. Jadinya lebih simple -- sangat-sangat simple sebenarnya -- dan yaudah sih, daripada tambah hancur, mending kayak gini aja deh...

Harapan saya sih, semoga dengan berubahnya tampilan blog ini bisa membuat saya lebih rajin untuk memasukkan tulisan-tulisan saya. (((semoga)))


Cheers,
Yessy.

Jumat, 10 April 2015

HIDUP

Hidup.
Hidup itu bukan sekedar persoalan bagaimana kau menghirup udara.
Memasukkannya ke dalam paru-parumu, lalu kau hembuskan lagi ke udara.

Hidup juga bukan sekedar memasukkan zat-zat tertentu ke dalam mulutmu.
Memasukkannya hingga metabolisme mengolahnya dan membuang sisanya kembali ke luar tubuhmu.

Hidup adalah bagaimana kau tumbuh.
Bukan sekedar tumbuh membesar, melebar, dan meninggi.
Tapi juga tumbuh-berkembang hatimu.
Agar akhirnya kau dapat memaknai arti sebenarnya dari hidupmu.

Karena setiap helaan napasmu,
Setiap detakan jantungmu,
Setiap kedipan matamu,
Tanpa kau sadari,
Kau membentuk dirimu.
Entah menjadi versi yang terbaik atau malah menjadi versi terburukmu.

Hidup.
Hiduplah.
Nikmatilah.
Maknailah.
Sebaik-baiknya.

(Pontianak, 10 April 2015)

Kamis, 09 April 2015

NALA

“Berhenti!”
Aku berlari. Berlari dan berlari. Keringat bercucuran tak kuhiraukan walaupun udara dingin menusuk tulangku.
“Berhenti!”
Aku masih berlari. Kaki-kakiku berlari seperti seorang pelari marathon yang ingin meraih medali emasnya. Hingga akhirnya cahaya menyilaukan menerpaku. Aku menyipitkan mataku sejenak. Kaki-kakiku berhenti melangkah. Aku terpaku.
***
“Ayah….”
Suara gadis kecil memecah kesunyian malam. Aku mengalihkan pandanganku dari kertas-kertas berserakan yang penuh dengan coretan di depanku. Lalu buru-buru mematikan rokok yang menyala, kemudian meneguk kopi dinginku.
“Belum tidur, sayang?”
Ia menggeleng. Mata bulatnya terlihat sembap. Dengan langkah kecilnya yang setengah diseret, ia berjalan ke arahku. Boneka kelincinya didekap erat di dadanya.
“Nala abis nangis?”
“Nala kangen Ibu….”
***
Bunyi nyaring sirene memecah kesunyian malam. Sementara beberapa polisi dan petugas medis sibuk mondar-mandir. Beberapa pengguna jalan yang melintas berhenti sejenak. Menonton seorang laki-laki berbaju hitam yang digotong ke dalam ambulans.
***
Tepuk tangan memenuhi ruangan kafe. Aku tersenyum sambil mengangkat topiku dengan tangan kananku, sementara tangan kiriku menopang gitar. Seorang perempuan berambut sebahu di kursi pojok belakang kafe bertepuk tangan. Senyumnya terkembang lebar. Matanya memancarkan binar yang selalu kusukai.
“Baiklah, untuk menutup malam minggu ini, saya akan memainkan lagu yang baru saya selesaikan. Lagu ini spesial, karena terinspirasi dari orang yang saya inginkan di samping saya selamanya. Nala, lagu ini untuk kamu.”
Tepuk tangan kembali bergemuruh. Sementara perempuan di kursi pojok belakang kafe tersipu.
Awalnya kukira cinta itu semu
Abstrak
Hanya ilusi yang diciptakan pujangga
Namun
Ketika kamu datang
Dengan satu kata ‘halo’
Semuanya berubah
Duniaku yang hanya hitam dan putih
Kini berwarna
Duniaku jungkir balik
Dan kini
Aku tahu pasti
Dengan siapa aku akan menua
Habiskan hari-hariku
Denganmu
Selalu denganmu
Denganmu
Selalu denganmu
Sampai akhirnya maut menjemput kita bersama
Petikan gitarku terhenti. Aku turun dari panggung kecilku. Berjalan perlahan ke arah pojok kafe. Seluruh mata pengunjung kafe menatapku sambil bersorak-sorak. Jantungku berdetak semakin cepat. Tinggal beberapa langkah lagi. Perempuan berambut sebahu itu masih tersenyum kepadaku. Aku tidak tahu lagi apa aku masih tersenyum padanya atau tidak. Keringat dingin mengalir. Kemeja flanelku terasa basah. Tapi kakiku tetap melangkah. Tangan kananku yang kumasukkan ke saku celanaku menggenggam kotak kecil.
Ragu-ragu, aku berlutut. Suasana kafe semakin riuh. Dia masih tersenyum. Kukeluarkan tangan kananku dari saku. Gemetaran, kubuka kotak hitam kecil itu. Nala – perempuan berambut sebahu itu – terkesiap. Namun senyumnya semakin merekah lebar. Ia memelukku erat. Erat sekali. Dan aku tahu apa jawabannya.
***
Mataku terbuka. Cahaya putih menyilaukan itu hilang. Aku bangun dan mulai berjalan. Anehnya langkahku terasa ringan.
“Raka?”
Kudengar suara familiar di telingaku. Kuhentikan langkahku.
“Raka….”
Aku menahan napasku. Terasa sentuhan ringan di bahuku. Kuhirup napas dalam-dalam. Ragu, kubalikkan tubuhku.
“Nala?”
Perempuan berambut sebahu itu tersenyum. Binarnya masih ada di sana. Aku memeluknya. Erat.
“Raka, apa kabar?”
***
“Ayah, Ibu sekarang udah di surga?”
Udah sayang….”
“Tapi Nala pengen ketemu Ibu.”
Aku memeluk Nala erat-erat.
“Ayah juga, Nala. Tapi Ibu udah senang di sana, sayang….”
“Tapi Nala sedih, yah.”
Aku diam. Tak mampu menjawab Nala. Seandainya Nala tahu, kalau aku lebih hancur darinya. Kunamai dia seperti nama ibunya. Nala Prameswari. Bukan hanya nama, tapi dia benar-benar mirip. Seolah-olah Tuhan ingin aku terus mengenangnya. Padahal Nala tak pernah bertemu ibunya sama sekali. Ibunya meninggal saat Nala lahir.
“Ayah….”
“Iya sayang….”
“Nala lupa bilang sama Ayah, besok Bu guru mau ketemu Ayah. Ayah bisa kan?”
“Iya sayang, bisa kok. Sekarang tidur dulu, ya.”
***
“Kenapa cowok suka ama cewek yang rambutnya panjang?”
“Mungkin biar keliatan lebih anggun. Feminin.”
“Tapi kefemininan cewek bukan cuman dinilai dari rambut, kan? Tapi juga sikap. Perilaku. Tutur kata….”
“Iya sih, lalu?”
Well, it just annoying. We shouldn’t judge the person by their look.”
But people really believe in first impression.”
Yeah, right. Life is so easy for you. You are young, free, and a freaking rock star!
Aku tertawa. Sementara perempuan berambut sebahu di sebelahku melototiku. Sebenarnya hal ini membuat tawaku semakin keras.
Ya ya yaaa…. Ketawa aja terus. Aku iri lho, sama kamu Ka.”
“Iri? Iri kenapa?”
Yaah kayaknya tanpa berusaha keras kamu selalu bisa bikin orang suka sama kamu. Apalagi cewek-cewek groupie kamu itu. Beeeuh, kelakuannya….”
“Namanya juga fans, Na.”
Duuuh gayamu Ka. Untung aku kenal kamu dari kecil. Jadi aku tahu semua kejelekanmu juga hahaha”
Kami tertawa. Sambil menyesap kopi kami masing-masing. Namanya Nala Prameswari. Sahabatku. Cinta pertamaku. Perempuan ambisius yang berkarier di salah satu bank swasta. Berbanding terbalik denganku yang menjadi musisi muda yang perlahan meroket.
“Jadi intinya cowok emang suka sama cewek rambut panjang?”
“Belum tentu, Na.”
“Lalu?”
“Ya namanya sayang, gak akan ngelihat apa-apa lagi kali. Kalo sayang ya sayang.”
Dia tersenyum.
“Aku sayang kamu, Na….”
Kemudian dia berdiri, lalu duduk di sebelahku.
 “Aku tahu. Aku juga sayang kamu, Ka….”
***
“Ayah dari Nala Prameswari?”
“Iya, saya sendiri.”
Wali kelas Nala menjabat tanganku kemudian mempersilahkanku duduk. Kemudian kami berbicara tentang Nala di sekolah. Mulai dari prestasinya, tingkah lakunya, dan interaksinya dengan teman-teman serta guru di sekolah. Aku lega mendengarnya. Walaupun karier dan hatiku hancur lebur, Nala masih bisa tumbuh menjadi anak yang baik. Aku bersyukur memiliki ayah, bunda, mama, dan papa yang rela mengurus Nala setiap saat bergantian.
“Saya minta maaf untuk sampai mengganggu Bapak seperti ini. Sebenarnya, ada satu hal lain yang menjadi alasan utama saya meminta Bapak datang hari ini.”
“Ada apa, ya, Bu? Bukannya Nala baik-baik saja di sekolah? Tadi Ibu juga yang menceritakannya kepada saya seperti itu.”
Wali kelas Nala tersenyum.
“Iya Pak, Nala memang salah satu murid terbaik kami. Tapi saya mohon maaf, kami terpaksa mengeluarkan Nala apabila Bapak masih belum melakukan kewajiban Bapak yang tidak dilakukan dari enam bulan yang lalu….”
***
“Maafkan kami, Pak. Kami sudah berusaha….”
“Bayi saya gimana, Dok?”
Dokter menggangguk, kemudian mengantarkanku ke ruangan bayi.
“Saya boleh lihat, Dok?”
“Silahkan Pak…. Selamat, Pak. Bayinya perempuan….”
Aku segera masuk ke ruangan bayi itu, kemudian seorang perawat menggendong bayi kecil. Begitu kecil. Tapi indah.
“Namanya siapa, Ka?” suara bunda tiba-tiba mengagetkan lamunanku.
“Nala Prameswari, Bun.”
***
“Nala, ini benar kamu? Aku nggak percaya. Apa aku mimpi?”
Nala melepas pelukanku dan masih tersenyum.
“Kamu nggak tahu sekarang kamu di mana, ya, Ka?”
***
BRAKK!!!
Pak Sony menggebrak meja kerjanya.
“Mau kamu apa, Ka? Hah?”
“Saya sudah minta maaf, Pak.”
“Kata maaf tidak bisa menghilangkan semua perbuatan kamu. Perbuatan kamu yang sudah sangat merugikan manajemen dan label kita!”
“Saya tahu Pak, dan saya minta maaf….”
“Cukup, Ka. Sudah cukup waktu dan kesempatan yang sudah saya berikan ke kamu. Saya tahu kamu musisi yang berbakat. Tapi berbakat saja tidak cukup. Kamu perlu disiplin! Kerja keras! Tanggung jawab! Kita punya kontrak kerja sama! Saya tahu, kamu sedang di situasi yang sulit. Tapi kamu seharusnya bisa professional….”
Kalimat Pak Sony menggantung. Ekspresinya melunak.
“Saya minta maaf, Raka. Tapi ini bukan keputusan saya sendiri. Kami sepakat untuk tidak bekerja sama dengan kamu lagi. Saya harap kamu mengerti.”
***
“Ini… bukan mimpi?”
Tawa Nala pecah. Suaranya begitu menyenangkan. Kemudian dia tersenyum.
“Bukan, Raka…. Kamu di persimpangan.”
“Persimpangan?”
“Iya. Persimpangan antara orang hidup dan mati.”
“….”
“….”
“Maksud kamu, aku meninggal?”
“Belum, Raka. Semuanya tergantung kamu, sekarang.”
***
Suara hingar bingar memekakkan telinga menyambutku ketika kakiku melangkah masuk ke ruangan gelap dengan lampu kelap-kelip yang tidak pernah kusukai. Tapi kucoba untuk menepis semuanya. Deka mengundangku ke sini. Untuk sebuah tawaran pekerjaan.
“Raka!”
Sesosok tubuh tinggi besar mendekatiku. Kami lalu berpelukan singkat.
“Gila, kusut banget, man!”
Aku tersenyum kecut.
No offense, man, tapi sumpah, emang kusut banget. Jadi gimana tawaran tadi? Jadi? Soal fee gampanglah, bisa diatur.”
Sebenarnya aku ragu untuk menerima tawaran pekerjaan Deka. Tapi apa boleh buat. Pilihanku tak banyak.
“Gimana, Ka? Deal?”
Deal!”
Gitu dong! Minum dulu, man. Gratis, tenang aja.”
***
“Kamu belum meninggal, Ka….”
“….”
“Tapi kamu bisa meninggal, kondisi kamu kritis.”
“Lalu, aku harus gimana?”
“Satu hal yang harus kamu jawab dulu, Ka. Kenapa kamu nggak bisa ikhlasin aku pergi, Ka?”
“Aku bukan gak ikhlas Na. Aku cuman kehilangan kamu. Aku kehilangan separo diri aku yang ada di kamu.”
Nala tersenyum.
“Kamu bodoh, Ka. Aku gak pernah tinggalin kamu. Aku masih ada di dalam kenangan kamu. Walaupun sebenarnya jiwaku pergi, melanjutkan perjalanan. Tapi aku gak bisa. Aku ketahan. Karena kamu.”
“Maaf, Na….”
“Aku tahu….”
“….”
“Kamu mau kembali lagi?”
“Tapi, gimana caranya?”
“Relain aku pergi, Ka. Ikhlaskan aku…. Dan berjanjilah kamu akan menebus kesalahan kamu ke Nala, anak kita. Bahagiakan dia. Lanjutkan hidup kalian….”
“Tapi….”
“Kamu bisa, Ka?”
“Iya, Na. Aku janji.”
“Pejamkan mata kamu, Ka. Lalu sekarang kamu peluk aku. Dan kalau terasa ada angin kencang di sekeliling kamu, kamu harus tetap tenang. Pastikan matamu tetap tertutup. Dan lepaskan pelukanmu perlahan.”
Sayup-sayup kudengar suara angin mulai berhembus. Nala kembali tersenyum. Lalu memelukku. Erat. Aku balas mendekapnya.
“Tutup matamu, Ka….”
Aku menutup mataku. Perlahan kurasakan hembusan angin semakin kencang. Semakin kencang dan mulai berputar-putar. Kurasakan pelukan Nala semakin mengendur. Sementara angin semakin kuat berhembus. Kurasakan ada kecupan di bibirku sekilas. Dan ada bisikan suaranya. Jernih sekali. Seperti biasanya.
‘Selamat tinggal, Raka. Jaga Nala baik-baik. Aku selalu sayang kamu….’
Sementara angin semakin kuat berhembus. Aku merasakan badanku terputar-putar kencang sekali. Kemudian aku merasakan badanku terhempas.
BRAKKKK!!!
***
“Raka, sudah sampai….”
Refleks, kubuka mataku. Kulihat ada ayah di sebelahku dan bunda di belakangku.
“Kenapa, sayang?” Tanya bunda lembut.
Nggak apa Bunda, Raka abis mimpi buruk….”
Aku keluar dari mobil dan menuju ruang persalinan dengan langkah lebar. Kulihat ada seorang dokter yang baru keluar dari ruang persalinan. Kulihat dokter itu berbicara kepada papa dan mama yang ada di depan ruang persalinan.  Sementara papa sedang sibuk menenangkan mama yang menangis.
“Dokter, saya suami Ibu Nala….”
“Maafkan kami, Pak. Kami sudah berusaha….”
“Bayi saya gimana, Dok?”
Dokter menggangguk, kemudian mengantarkanku ke ruangan bayi.
“Saya boleh lihat, Dok?”
“Silahkan Pak…. Selamat, Pak. Bayinya perempuan….”
Aku segera masuk ke ruangan bayi itu, kemudian seorang perawat menggendong bayi kecil. Begitu kecil. Tapi indah.
“Namanya siapa, Ka?” suara bunda tiba-tiba mengagetkan lamunanku.
“Nala Prameswari, Bun.”
Dan aku tersadar, tadi itu bukan mimpi. Aku mendapat kesempatan kedua.
***
“NALA PRAMESWARI!”
Seluruh ruangan bertepuk tangan. Tak terkecuali aku. Nala diwisuda hari ini, dengan predikat lulusan terbaik. Bertepatan dengan hari wisuda Nala, malam ini aku akan mendapatkan penghargaan atas konsistensiku berkarya di dunia musik. Tiba-tiba kurasakan ada semilir angin lembut berhembus. Aku tersenyum. Nala ada di sini.
‘Aku berhasil, sayang. Aku berhasil. Terima kasih….’
****

Sabtu, 11 Oktober 2014

Tik Tok

Tik tok... Tik tok...

 

"Rhei?"

Sayup-sayup kudengar seseorang menyebut namaku.

Pandanganku gelap.

Di mana aku?

 

"Percuma, dia nggak bisa dengar kamu."

"Gak mungkin. Aku yakin sebentar lagi dia sadar...."

 

Kurasakan jemari hangat menggenggamku.

Erat.

Hangat.

 

"Rhei, please, buka mata kamu...."

"Mungkin belum saatnya, Hans...."

"Gak mungkin! Seharusnya....."

"Hans, biarkan dia istirahat."

"Rhei, please, bangun...."

 

Aku mencoba membuka kelopak mataku.

Hal pertama yang kulihat adalah cahaya terang.

Sebuah ruangan bercat putih.

Kucoba mengerjapkan kedua mataku perlahan.

 

"Glen, tunggu!"

Seseorang setengah berteriak di sampingku.

 

Kini kulihat seorang lelaki berkacamata tersenyum kepadaku.

Aku mengenalnya.

"Hans?"

Senyumannya semakin melebar.

"Kamu ingat aku, Rhei?"

"Kenapa aku harus lupa? Aku ada di mana, Hans?"

 

Seseorang yang lain masuk ke ruangan.

Dan sesuatu ada di tangannya.

 

"Sekarang, Hans...." ujar lelaki asing itu sambil menyodorkan kotak putih kepada Hans.

Ragu-ragu Hans meraihnya.

"Jangan ragu, Hans. Kamu ingat kan, prosedurnya? Sekarang atau tidak sama sekali...."

Lalu lelaki itu keluar dari sana.

 

"Hans? Aku di mana?"

Hans membuka kotak itu perlahan.

Kemudian ia menghela napas panjang dan membelai lembut kepalaku.

"Istirahat, Rhei. Istirahat. Pada saatnya nanti, kamu akan tahu semuanya."

Ia meraih tanganku.

Menggenggamnya sebentar kemudian menggosokkan sesuatu yang dingin pada permukaan kulitku.

Kemudian sesuatu yang tajam kurasakan menembus kulitku.

Cepat dan tak terduga.

"Apa itu, Hans? Apa yang kamu suntikkan?!"

Ia hanya tersenyum sambil membelai kepalaku lagi.

"Istirahat, Rhei. Istirahat. Pada saatnya nanti, kamu akan tahu semuanya...."

 

Kelopak mataku memberat.

Pandangan mataku mulai kabur.

Kepalaku terasa berputar-putar.

 

Tik tok... Tik tok...

 

Bunyi apa itu?

 

Tik tok... Tik tok...

 

Air, kah?

 

Tik tok... Tik tok...

 

Jangan bilang ini bom!

 

Tik tok... Tik tok... Tik tok...

 

Apa yang salah?

 

Tik tok... Tik tok... Tik tok... Tik tok...

 

Semakin nyaring.

Semakin cepat.

 

Tik tok... Tik tok... Tik tok... Tik tok... Tik tok... Tik tok...

Tik tok... Tik tok... Tik tok... Tik tok... Tik tok... Tik tok....

 

Tuhan, aku takut.

Tolong aku!

Siapa pun, TOLONG AKUU!!!

 

####

Senin, 06 Oktober 2014

Tian

"Lari!"

Maka aku pun berlari.

Lari sekencang-kencangnya.

Ke kiri, ke kanan, ke mana saja.

 

"Duduk, Lola, ayo ke sini!"

Maka aku pun mendekatinya.

Lalu duduk di sampingnya.

Biasanya dia membelai kepalaku sambil bergumam 'pintar...' sebelum akhirnya dia meraihku ke dalam pelukannya.

 

"Ayo Lola, tangkap bolanya!"

Maka kemudian aku berlari mengejar-ngejar bola yang menggelinding, lalu dengan susah payah kudorong dengan kepalaku ke arah Tian.

Sampai terkadang, aku berharap aku memiliki sepasang tangan agar semuanya jadi lebih mudah.

Seperti Tian.

 

Namanya Tian.

Dan aku menyayanginya.

Aku juga tahu, Tian juga menyayangiku.

Kalau tidak, dia tak akan mengajakku tinggal di rumahnya ini.

Aku ingat waktu pertama kalinya aku bertemu Tian.

Hari itu hujan turun, air tergenang ada di mana-mana.

Di depan sebuah toko aku duduk, berharap ada selimut yang bisa menghangatkanku.

Aku beruntung, pemilik toko tidak mengusirku.

Malah seorang anak kecil sempat membagiku sepotong biskuit manis kepunyaannya.

Lalu Tian datang dengan payungnya yang berwarna merah.

Dia meletakkan payungnya di dekatku, lalu masuk ke toko.

Setelah itu, dia datang memberiku sepotong biskuit sambil mengelus kepalaku.

Kemudian pemilik toko keluar, lalu mereka ngobrol sebentar.

Aku masih terlalu kecil untuk mengerti perkataan mereka.

Kemudian mereka tersenyum ke arahku.

Tian berjongkok, kemudian meraihku ke dalam gendongannya.

Di bawah payung merah itu, kami pulang ke rumahnya.

 

"Lompat, Lola, lompat!"

Aku pun melompat.

Aku bahagia, Tian.

Lalu dalam lompatanku yang terakhir dia menangkapku.

Lalu menggendongku di bahunya.

 

Begitulah sepotong rutinitas soreku.

Aku bermain bersamanya.

Aku berlari, duduk, berguling-guling, melompat, menangkap bola.

Apa pun yang Tian pinta, aku mengikutinya.

 

***

 

Hari ini hujan turun lagi.

Dan sudah tiga hari aku tidak melihat Tian.

Aku merindukan Tian.

Di mana Tian?

Hanya ada ayah dan ibunya di rumah.

 

Seandainya aku sama sepertinya, aku pasti sudah ada di luar sana.

Mencarinya.

Aku akan datang menjemputnya dengan payung merahnya.

Lalu kami akan kembali pulang.

Di bawah hujan.

Dengan payung merahnya.

 

####