Minggu, 28 Oktober 2012

28 Oktober, 84 tahun yang lalu....




28 Oktober 1928 merupakan satu momentum lahirnya bangsa Indonesia.
Mengapa di tanggal 28 Oktober?
Karena di tanggal inilah, 84 tahun yang lalu, para pemuda Indonesia mengikrarkan Sumpah Pemuda yang merupakan buah dari perjuangan rakyat selama ratusan tahun tertindas di bawah kaum kolonialis pada saat itu, walaupun proses kemerdekaan itu sendiri masih jauuh sekali. Setidaknya, semangat untuk bersatu itu muncul di hari Sumpah Pemuda ini :)

Sedikit merinding, waktu saya menulis kata-kata saya di atas.
Dan sedikit miris juga sebenarnya.
Dulu, 84 tahun yang lalu, orang-orang seumuran saya berjuang dan terus berpikir, bagaimana caranya untuk tetap bersatu dan memperjuangkan kemerdekaan.
Sekarang, di saat kemerdekaan itu telah diraih, rasanya kok jadi melempem.
Iya, melempem.

Emang sih, hari gini, gak mungkin juga kita teriak-teriak di jalanan minta kemerdekaan, karena kita memang udah merdeka.
Tapi, sejauh mana sebenarnya kita udah mengisi kemerdekaan?

Berat, ya, bahasan saya hari ini? Hhihihi

Tapi memang iya, kan?
Di usia seperti saya, pendidikan merupakan salah satu kebutuhan yang seharusnya dipenuhi.
Tetapi, di luar sana, berapa banyak yang melanjutkan pendidikannya sampai ke perguruan tinggi?
Jangankan perguruan tinggi, yang sekolah nggak sampai 12 tahun juga banyak.

Memang, pendidikan tinggi bukan jaminan untuk sukses.
Tapi, pendidikan bisa mengubah cara pandang seseorang; pemikiran akan sesuatu, bukan sekedar mengejar selembar ijazah untuk mendapatkan pekerjaan dan kehidupan dan layak.

Oke, pekerjaan dan kehidupan yang layak memang penting.
Penting sekali malah.
Gimana bisa hidup juga kan, tanpa uang?

Tapi, seperti yang pernah seorang bijak katakan:
"Pendidikan dapat mengubah peradaban"

Untungnya, banyak juga yang peduli akan pendidikan ini hingga melanjutkan pendidikannya sampai ke luar negeri.
Banyak kok, anak-anak yang pintar, berwawasan luas, yang akhirnya mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan beasiswa di luar negeri, demi mendapatkan pendidikan yang berkualitas baik. Ada juga yang menggunakan biayanya sendiri dalam mengejar pendidikan tersebut.

Tetapi, ada berapa yang akhirnya kembali?

Setahu saya, rata-rata memilih menetap karena terlanjur mendapatkan pekerjaan dengan penghasilan yang baik di sana. Malahan, ada yang menjadi warga negara di sana, melepaskan kewarganegaraan mereka sebelumnya.

Well, nggak salah sih....
Hidup, hidup mereka. Yang memilih toh, mereka juga.
Kan hidupnya mereka :)

Tapi, sedih juga sih....
Kita memerlukan banyak generasi baru, yang cerdas, berwawasan luas, dan juga kritis dalam membangun negeri ini ke depannya.
Namanya manusia, pasti ada batas maksimumnya kan.
Cepat atau lambat, pemimpin yang saat ini ada pasti akan membutuhkan generasi selanjutnya untuk akhirnya menggantikan mereka.

Generasi selanjutnya itu, yaa, siapa lagi selain kita?

Kita boleh banget, nyari beasiswa ke luar negeri....
Tapi, abis lulus, bagusnya balik lagi kan ke sini :)
Nerapin ilmu yang udah didapat :)

Memang, situasi saat ini memang tidak begitu baik.
Berarti kita memang membutuhkan pemimpin yang dapat memperbaiki semuanya nanti.
Kalau semua yang bagus pada ngabur ke luar, yang stay di sini bukan yang bagus dong? :p

Anyway, saya juga bukan siapa-siapa.
Saya cuman seorang perempuan yang hampir berumur 20 tahun hhihihi
Iya, masih hijaauuu banget :p
#jadi, kalau ada kata-kata kurang berkenan, mohon dimaafkan :)
Saya cuman menyalurkan apa yang ada di otak saya saja, daripada nanti mengeras dan menyumbat otak saya >,< LOL :p


Terima kasih sudah membaca :)

Salam Sumpah Pemuda :D

Kamis, 25 Oktober 2012

Call Me, Maybe?



I threw a wish in the well,
Don't ask me, I'll never tell
I looked to you as it fell,
And now you're in my way

I'd trade my soul for a wish,
Pennies and dimes for a kiss
I wasn't looking for this,
But now you're in my way

Your stare was holdin',
Ripped jeans, skin was showin'
Hot night, wind was blowin'
Where you think you're going, baby?

Hey, I just met you,
And this is crazy,
But here's my number,
So call me, maybe?

It's hard to look right,
At you baby,
But here's my number,
So call me, maybe?

Hey, I just met you,
And this is crazy,
But here's my number,
So call me, maybe?

And all the other boys,
Try to chase me,
But here's my number,
So call me, maybe?

You took your time with the call,
I took no time with the fall
You gave me nothing at all,
But still, you're in my way

I beg, and borrow and steal
Have foresight and it's real
I didn't know I would feel it,
But it's in my way

Your stare was holdin',
Ripped jeans, skin was showin'
Hot night, wind was blowin'
Where you think you're going, baby?

Hey, I just met you,
And this is crazy,
But here's my number,
So call me, maybe?

It's hard to look right,
At you baby,
But here's my number,
So call me, maybe?

Hey, I just met you,
And this is crazy,
But here's my number,
So call me, maybe?

And all the other boys,
Try to chase me,
But here's my number,
So call me, maybe?

Before you came into my life
I missed you so bad
I missed you so bad
I missed you so, so bad

Before you came into my life
I missed you so bad
And you should know that
I missed you so, so bad

It's hard to look right,
At you baby,
But here's my number,
So call me, maybe?

Hey, I just met you,
And this is crazy,
But here's my number,
So call me, maybe?

And all the other boys,
Try to chase me,
But here's my number,
So call me, maybe?

Before you came into my life
I missed you so bad
I missed you so bad
I missed you so, so bad

Before you came into my life
I missed you so bad
And you should know that

So call me, maybe?

Familiar dengan lirik di atas?
Iyaa, itu lagunya Carly Rae Jepsen yang judulnya "Call Me Maybe".

Awalnya saya nggak tau sama sekali, sampai akhirnya majalah kesayangan, CHIC Magz, pasang si Carly ini di covernya untuk edisi #125.

Awalnya, saya kira itu Demi Lovato, hahahaha Tapi, kok, setelah saya pelototin agak lama, beda yaa? Hmmm.. Pantesan beda, orang emang bukan Demi Lovato kok! :p


Demi Lovato







Carly is so pretty and her face is so unique, i love her songs and the lyrics, just like Taylor Swift, she made her own songs and lyrics! Super! :D

Saking boomingnya lagu ini, GLEE aja sampe bikin covernya loh :D
Versi yang saya suka? Hmm.. Dua duanya >,<
I can't choose which one is better.



Hmmmm...
Kalo dikaitkan dengan lirik yang mana yang pas dengan situasi saya saat ini:


I missed you so bad
I missed you so bad
I missed you so, so bad

Hahahahaha
Berasa ababil deh saya =,=

Tapi saya emang lagi rindu kok...
Rindu ama si Ghea, rindu ama si spesial hahaha :p

Hmmm...
Gimana, tertarik buat dengar lagunya? :D
Dijamin, enak banget di telinga :)
Apalagi liriknya lucu gitu hhihihii

Enjoy the song :)

Before Sunrise (1995) and Before Sunset (2004)

Before Sunrise (1995) dan Before Sunset (2004) adalah film drama romantis yang tidak biasa.
Tidak biasa di sini maksudnya beda dengan film drama romantis.
Kedua film yang saling berhubungan ini mengandalkan akting Ethan Hawke (play as Jesse) dan Julie Delpy (play as Celine) dan dialog-dialog cerdas yang mengalir apa adanya serta pemandangan kota Vienna (Before Sunrise) dan kota Paris (Before Sunset) yang akhirnya menghasilkan film drama romantis yang sangat memikat.

A very recomended movie, for sure ;)



Kisah cinta yang tidak biasa.
Bertemu di kereta dan akhirnya memutuskan untuk menghabiskan satu hari bersama-sama setelah mengobrol sebentar. Keputusan nekad (bagi saya) untuk Celine.
Gimana nggak nekad, baru kenalan ama cowok, orang dari negara lain pula (Celine dari Perancis, Jesse dari Amerika Serikat) tapi udah berani meng-iya-kan ajakan Jesse untuk jalan bareng.

Yaah, kalo si Celine gak mau ya gak ada juga ini film :p

Maka dari perjalanan mereka berkeliling kota itulah yang membuat mereka saling bercerita dan mengenal satu sama lain.
Dari situlah mereka merasa tertarik satu sama lain, dan di akhir film, sebelum mereka akhirnya berpisah, Jesse dan Celine saling berjanji untuk bertemu kembali di kota tersebut enam bulan yang akan datang. Tanpa saling menukar nomor telepon. Mereka menganggap saling menukar nomor telepon itu konyol.

Tapi bagi saya, gak ada tukeran nomor telepon itu yang konyol hahahaha
Bego malahan =,=

Dan cerita tentang dua orang asing yang saling jatuh cinta itu pun berakhir.
Kemudian dilanjutkan kembali di tahun 2004.

Di sini, Jesse telah menjadi seorang pria yang mapan, seorang penulis buku best-seller yang sedang mempromosikan bukunya di beberapa kota di dunia, dan kota Paris adalah kota terakhir yang dikunjunginya.

Jesse merupakan sosok yang lebih dewasa, dan dari luar terlihat memiliki kehidupan yang sempurna; mapan, memiliki istri dan juga anak dan terlihat sangat bahagia dengan kehidupannya.

Apakah Jesse benar-benar bahagia?
Ternyata tidak.
Dibalik tampilan kehidupannya yang begitu sempurna, ternyata Jesse menyimpan kekosongan pada dirinya.
Iya, Jesse itu sebenarnya hampa.
Hampa, tanpa Celine yang sebenarnya orang yang benar-benar ia cintai.

Memang, dari awal (Before Sunrise) kita bisa melihat chemistry Jesse dan Celine yang begitu kuat. Padahal mereka baru saling mengenal.

Di toko buku tempat Jesse menggelar launching, ternyata ada Celine!
Dan di sisa waktu Jesse sebelum kembali terbang ke Amerika diisi dengan berbagi cerita dan berkeliling kota Paris bersama Celine.

Saya speechless ketika menonton kedua film ini.
Filmnya benar-benar indah, dan di mata saya nggak ada celanya :)

Jadi, saya memberikan nilai 10, nilai yang sempurna untuk kedua film ini :D
Walaupun saya lebih suka film yang pertama, karena lebih kompleks.
Kompleks?
Ya iya laa, secara mereka baru saling kenal kan hahahaha :p

Sementara itu, Rotten Tomatoes memberikan rating 100% untuk Before Sunrise dan 95% untuk Before Sunset.
Dan IMDb memberikan nilai 8 untuk keduanya.

Tapiii, saya sebenarnya kesal juga sih sama si Jesse pas film kedua.
HE IS A MARRIED MAN, BUT HE SAID HE STILL IN LOVE WITH CELINE =,=

Hueeeeh... Dasar lelaki gak bersyukur =,=
Kalo emang masih pengen ama Celine, yah jangan nikah ama istrinya yang sekarang laa >,<
Saya sebagai perempuan ngerasa gimanaaa gitu, gimana pun, Jesse nggak jujur dengan dirinya di awal, jadi bisa bikin dirinya sendiri, istrinya dan Celine sakit hati.
Ya iya laa... Makanya si Celine jadi agak ogah-ogahan gitu sama si Jesse.

Well, semoga review saya kali ini bermanfaat.
Btw, ada perbaikan gak tulisan saya dari segi me-review? Hhiihihi :p
Please comment, if you want to :)
Kalo gak mau, ya gpp :p


Enjoy the movie! :D





P.S.: Kalo udah nonton, coba tebak, ini fotonya adegan di film mana hayooo... Before Sunrise apa Before Sunset? :p


P.S. (again!): Denger-denger mau ada sekuelnya :D OMG, semoga emang jadi yaa :D Can't waiiit :D

Senin, 22 Oktober 2012

A Little Bit Sick...

Halo! :)
Di hari yang hujan dan kondisi badan yang lagi nggak enak, mungkin sisa-sisa masuk angin kemarin =,=

Badan gak enak, tapi gak napa-napain di kamar juga nggak enak.
Mau nyobain baca, baru 5 menit, eneg liat tulisan..
Nyobain nonton, gak mood mau nonton..
Akhirnya mencoba online, dan ternyata mm.. tidak terlalu buruk :)
Dan sekarang saya di depan laptop mencoba menulis di blog saya ini..

Saya tahu, saya sakit mungkin karena kesalahan saya sendiri.
Tidur kurang, kecuali tadi malam, saya tidur jam 10 :)
Makan juga sering gak teratur, tapi hari ini saya berusaha untuk membuat itu menjadi teratur. Makan obat juga. Dan juga vitamin.
Ya, saya mengakui, akhir-akhir ini saya juga malas untuk minum vitamin.

Iya, malas.
Malas itu benar-benar sifat yang merusak :'(
Dan hari ini saya berjanji. Benar-benar berjanji untuk berusaha untuk lebih rajin.
Mungkin saya memang gak mau gendut, tapi saya akan berusaha, yaah, lebih teratur, gak kayak kemarin.

Dan mungkin ini karma buat saya.
Saya beruntung dan sangat bersyukur punya mama dan pacar yang perhatian pada saya.
Hhihihihi
Iyaa, karena mereka gak pernah bosan buat ingatin saya akan hal-hal tersebut. Setiap hari.
Tapi emang sayanya bandel dan keras kepala ya jadinya kayak gini.
Maaf ya, lain kali janji ga akan kayak gini lagi.
Sumpah, gak enak banget kayak gini.
Hujan pun berhenti. Dan saya masih merasa sakit.
Udah ketinggalan 1 mata kuliah siang.
Dan akan melewatkan 2 mata kuliah nanti malam.

Jaga kesehatan :)
Jangan bandel kayak saya haha
Karena emang lebih baik mencegah daripada mengobati.
Karena emang kalo sudah terlanjur sakit itu gak enak.
Dan obat rasanya pahit.
Saya benci obat sebenarnya :'(

Selamat sore :)

Sabtu, 20 Oktober 2012

Korupsi


Korupsi. Sejauh apa kita mengetahui dan memahami arti sebenarnya dari korupsi?
Di dalam UU No.31 tahun 1999 jo UU No. 20 tahun 2001 pasal 2 korupsi didefinisikan sebagai perbuatan melawan hukum, dengan maksud memperkaya diri sendiri atau orang lain, dapat merugikan keuangan atau perekonomian negara. Jadi, jika saya simpulkan, korupsi merupakan suatu perbuatan yang melawan hukum dengan maksud memperkaya diri sendiri maupun orang lain sehingga dapat merugikan keuangan atau perekonomian negara.
Akhir-akhir ini kita bisa melihat banyak sekali kasus-kasus korupsi yang akhirnya terkuak. Akan tetapi yang saya lihat sepertinya kebanyakan dari kasus-kasus tersebut masih banyak yang masih mengambang atau belum selesai.
Di sini saya tidak akan membahas kasus korupsi apa saja yang ada di Indonesia atau kasus korupsi yang telah selesai maupun yang masih mengambang. Tidak. Di sini saya akan mengemukakan dari sudut pandang saya sebagai mahasiswa, mengapa budaya korupsi sudah sangat melekat dan sepertinya sudah mulai mengakar kuat sehingga sulit untuk dibasmi.
Menurut saya, korupsi timbul karena kurangnya sikap kejujuran. Padahal dari kita kecil, nilai kejujuran ini sudah ditanamkan ke dalam diri kita oleh orang tua kita masing-masing. Bahkan di semua agama juga ditekankan bahwa kejujuran adalah hal esensial yang mutlak dimiliki oleh semua manusia. Tapi entah bagaimana, sepertinya kejujuran adalah hal yang sepele, namun sangat sulit untuk dilaksanakan ke kehidupan sehari-hari. Lebih mudah untuk melakukan sebuah kebohongan dibandingkan dengan menyatakan sebuah kejujuran. Bahkan sampai timbul sebuah ungkapan white lies atau bohong putih atau yang lebih populer dengan kebohongan demi kebaikan. Ya, kita telah terbiasa dengan pemikiran seperti ini, “Ya, nggak apa lah, sekali-sekali. Lagian demi kebaikan juga, nggak apa lah bohong sedikit.
Ironisnya, hal remeh seperti ini malah dimulai oleh para orang tua. Orang tua selalu ingin melindungi dan memberikan yang terbaik buat anaknya. Sehingga terkadang tanpa sadar, orang tua telah memberikan contoh untuk berbohong demi kebaikan ini tadi.
Saya di sini tidak ingin menyudutkan atau menyalahkan satu atau beberapa pihak. Tidak. Karena saya sendiri juga manusia biasa yang juga pernah berbohong. Sangat munafik kalau saya mengatakan saya tidak pernah berbohong selama saya hidup.
Korupsi, tentu saja dapat dibasmi dengan cara menanamkan nilai kejujuran sejak dini pada generasi muda. Penanaman kejujuran ini juga sebenarnya kurang efektif jika dalam pelaksanaannya tidak ada disiplin dan kerja keras secara terus-menerus, dan tentu saja, seperti yang kita tahu, perubahan besar dimulai dari hal-hal kecil dan dimulai dari diri sendiri. Karena kita tidak bisa memaksa orang lain untuk berubah. Kitalah yang mulai berubah; menjadi pribadi yang lebih jujur dan memiliki sifat ksatria (mau mengakui kesalahan yang kita perbuat). Ketika kita sudah mulai menjadi pribadi yang lebih baik, orang-orang yang ada di sekitar kita pasti akan merasakan perubahan yang terjadi. Dan saya yakin, mereka secara tidak sadar akan mulai berubah dan menjadi pribadi yang lebih baik juga.
Saya pernah membaca artikel bahwa salah satu sekolah di Jakarta bekerja sama dengan KPK menerapkan Kantin Jujur. Menurut saya, itu merupakan hal yang sangat baik dan saya berharap ke depannya Kantin Jujur ini bisa diterapkan ke seluruh sekolah di Indonesia. Saya tahu, ini bukan hal yang mudah, tetapi masih bisa dicoba. Mungkin bisa dimulai di sekolah-sekolah percontohan dari masing-masing propinsi. Saya yakin, hal ini akan membawa efek domino.
Selain kejujuran, disiplin, dan sifat ksatria tadi, tentu masih ada hal-hal lain yang dapat membuat budaya korupsi ini terkikis dan akhirnya menghilang. Sebenarnya, jika kita lihat, sebenarnya apa motif orang melakukan korupsi? Menurut saya ada dua; memang membutuhkan uang (terdesak) dan serakah. Iya, serakah. Mengapa bisa timbul rasa serakah? Karena adanya rasa tidak puas.
Untuk poin yang pertama (membutuhkan uang karena terdesak), saya tidak akan membahasnya, karena saya rasa pemerintah sudah memiliki anggaran membayar pegawai setiap tahunnya. Dan saya rasa pemerintah juga memiliki perhitungan dan alasan mengapa gaji setiap pegawai nilainya seperti itu. Tentu saja hal-hal seperti itu tidak pantas saya bahas, saya hanya seorang mahasiswa, bukan? J
Untuk poin yang kedua, serakah. Serakah ini merupakan salah satu sifat dasar manusia, tetapi bisa kita kontrol. Serakah timbul karena adanya rasa tidak puas. Menurut saya, memang rasa tidak puas itu perlu, untuk membuat diri kita melakukan beberapa perbaikan dan perubahan agar bisa menjadi lebih baik. Akan tetapi, segala sesuatu yang berlebihan juga tidak baik. Begitu pula dengan rasa tidak puas ini. Jika kita selalu merasa kurang dan kurang, yang ada kita tidak pernah bisa untuk bersyukur, dan yang ada cari, cari, dan terus mencari. Pokoknya tidak bisa puas, selalu merasa kurang. Sifat seperti ini sangat berbahaya, dan tentu saja serakah bisa membuat orang tergiur untuk melakukan korupsi.
Dari sekian penjelasan saya yang cukup lebar dan mungkin berbelit-belit, kita memang memerlukan aturan yang jelas dan tegas, pemimpin yang berani, dan hakim yang tegas untuk menindak para pelaku korupsi. Tetapi sesungguhnya di balik semua hal-hal besar tersebut, masih ada hal-hal kecil yang sebenarnya merupakan inti dari masalah korupsi ini. Contoh kecil, di bangku sekolah kita diajarkan oleh guru kita bahwa kita harus jujur mengerjakan soal waktu ulangan. Akan tetapi dalam pelaksanaannya, apakah kita bisa benar-benar jujur melakukannya? Saya tidak yakin ada yang benar-benar jujur selama enam tahun belajar di SD, tiga tahun di SMP, tiga tahun di SMA, dan selama kurang lebih empat tahun di perguruan tinggi. Bila memang ada, saya ucapkan selamat, Anda benar-benar pribadi teladan para pelajar saat ini. Karena saya sendiri menyadari bahwa saya tidak semulus itu. Ada kalanya saya berlaku tidak jujur. Saya juga manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan J
Jadi, menurut saya dalam memberantas korupsi kita harus bisa jujur pada diri sendiri dan orang lain. Kejujuran ini saja tidak cukup, tetapi juga harus ada disiplin, adanya sifat ksatria, dan ada rasa syukur. Baru setelah itu, kita memerlukan instrumen tambahan yang dapat menunjang pemberantasan korupsi ini. Instrumen ini diantaranya aturan yang jelas dan tegas mengenai korupsi, pemimpin yang berani mengambil tindakan dalam mencari penyelesaian atas kasus-kasus korupsi yang ada, dan tentu saja hakim yang jujur, berani, dan berintegritas dalam menjalankan tugasnya dalam mengadili para koruptor ini.
Saya yakin dan optimis, jika hal-hal tersebut benar-benar diterapkan, maka korupsi pun tidak ada lagi di Indonesia.

(Maria Yessy Christy -- Mahasiswa -- Universitas Tanjungpura Pontianak)

Kamis, 18 Oktober 2012

It's Rainy Day, Baby! :D

Kalau saya disuruh milih, antara cuaca panas dengan hujan....
Saya pasti akan memilih HUJAN!
Hahahahaha
Iyaa, hujan :)

Saya lebih suka basah-basahan, menggigil kedinginan, daripada harus bermandikan keringat sambil ngipas-ngipas :p

Hmm.. Lagian hujan itu romantis loh :)
Seriuuuuss...
Kalo nggak romantis, gak akan ada adegan ciuman di tengah hujan di film The Notebook (2004) hhiihihihi :p

Hujan bisa bikin hati adem, tapi bisa bikin kita galau setengah mati kalau lagi jauh-jauhan ama orang yang disayang.

Hujan bisa bikin kita masuk angin, tapi bisa bikin kita senyum-senyum seharian gara-gara abis ujan-ujanan sama orang yang disayang.

Makanya jangan heran kalo anak kecil suka main hujan.
Soalnya hujan emang bisa bikin euforia sendiri.
Hahahaha
Iyaa, euforia.
Euforia yang ada di tiap tetesan air yang menyentuh telapak tangan.
Dingin. Sejuk. Segar. Adem. Tapi juga bikin hati tenang. Teduh. Lega.

Gak heran juga kan, kalo di film-film banyak adegan minta maaf sambil ujan-ujanan.
Atau yang sedikit lebay, nari-nari di bawah tetesan hujan :p

Aaaah, jadi ingat lagunya Utopia yang judulnya "Hujan" :)

Rinai hujan basahi aku
temani sepi yang mengendap
kala aku mengingatmu
dan semua saat manis itu

Segalanya seperti mimpi
kujalani hidup sendiri
andai waktu berganti
aku tetap tak'kan berubah

Aku selalu bahagia
saat hujan turun
karena aku dapat mengenangmu
untukku sendiri ooohhh..ooo

Selalu ada cerita
tersimpan di hatiku
tentang kau dan hujan
tentang cinta kita
yang mengalir seperti air

Aku selalu bahagia
saat hujan turun
karena aku dapat mengenangmu
untukku sendiri ooohhh..ooo

Aku bisa tersenyum sepanjang hari
karena hujan pernah menahanmu disini
untukku ooohhh...



Gara-gara hujan terus nih, akhir-akhir ini jadi nulis tentang hujan juga hhihihi
Saya banyak kenangan manis saat hujan.
Yang tawar, pahit, sepet-sepet dikit juga ada siih, tapi gak mau diingat hahaha :p
Yang manis-manis aja yang diingat biar senang terus :D

Yang pasti, saya gak mau tulisin di sini dong yaa hahahahaha :p
Apa gunanya jurnal pribadi saya kalo saya tulisin di sini :)

Hmm..
Udah ada bunyi kodok lagi kedengaran.
Kayaknya hujannya nanti bakal berlanjut lagi deh :)

Selamat menikmati hujan :)
Rasain deh, gimana rasanya euforia itu :D

Flipped (2010)

Flipped adalah salah satu film drama favorit saya :)
Film yang diproduksi tahun 2010 yang disutradarai oleh Rob Reiner.


Flipped bercerita tentang dua orang remaja yang saling menyimpan cerita satu sama lainnya.
Cerita dibuka dengan kepindahan seorang anak laki-laki yang bernama Bryce Loski yang baru pindah ke rumah barunya. Seorang gadis kecil yang seumuran dengan Bryce langsung datang dan menawarkan bantuannya untuk menurunkan barang-barang keluarga Loski.

Film ini menceritakan sebuah kisah cinta monyet yang sebenarnya klise, namun dengan sudut pandang dari masing-masing tokoh sentral (Julie Baker dan Bryce Loski) membuat cerita ini menjadi menarik dan sesekali mengundang senyum kita sampai akhirnya membuat kita teringat dengan kisah cinta monyet kita dulu hihihi :p

Karena, dari satu kejadian, ternyata bisa diartikan berbeda dari masing-masing tokoh.

Contohnya saat mereka pertama kali bertemu.
Dari situ Julie terlihat sangat tertarik dengan Bryce, sementara Bryce selalu berusaha menghindar dari Julie.
Dari sudut pandang Julie, Bryce juga menyukainya, namun terlalu malu untuk memperlihatkannya. Sementara dari sudut pandang Bryce, Julie nggak lebih dari seorang gadis kecil yang sangat amat agresif sehingga membuatnya takut.

Dan hal ini pun terus berlanjut hingga mereka mulai beranjak remaja.
Julie terus menyukai Bryce, sementara Bryce tetap menjaga jarak dengan Julie.

Sampai akhirnya pada suatu titik Julie kecewa dengan Bryce dan mulai menjauhinya.
Dari sini semuanya berubah. Berbalik. 180 derajat.

Julie yang selama ini terang-terangan menyukai Bryce tiba-tiba menjadi dingin dan ketus pada Bryce.
Bryce yang selama ini menghindar akhirnya menjadi kehilangan. Kehilangan sosok Julie yang selama ini ia hindari.

Hmm... Sounds nice, right?
Of course! :D

IMDb memberi rating 7.6 bintang dari 10 bintang, sementara Rotten Tomatoes hanya memberikan 54%.

Hmmm.. Kalau saya pribadi nilainya 8.5 :D
Soalnya emang ceritanya bagus, dan benar-benar mengalir, sampai saya terhanyut dan tiba-tiba filmnya habis! Saya tidak terima! Saya masih pengen liat Julie dan Bryce barengan XD

Penasaran?
Ya udah, nonton filmnyaa :)

Happy watching :)

Senin, 15 Oktober 2012

Ragu dan Galau

Ragu & Galau...
Dua kata yang akhir-akhir ini populer.
Mengapa populer?
Mungkin jawabannya, dua kondisi ini yang sedang banyak melanda hahahaha

Sebenarnya dua kata ini saling berhubungan lho.
Gak percaya?

Coba deh pikir, mengapa kita bisa merasa galau?
Karena adanya kegelisahan.
Mengapa bisa gelisah?
Karena adanya keraguan.
Hahahaha

Iyaa, galau timbul karena ada ragu.
Dan keraguan akan menimbulkan galau itu sendiri.

Bingung?

Ya sudah, saya juga bingung harus jelasinnya gimana :p

Kok tiba-tiba Yessy ngebahas soal ragu dan galau yang sepupuan ini?
Apa saya sedang ragu? Nggak.
Apa saya sedang galau? Nggak.

Saya cuman capek ngedengar kata galau di mana-mana..
Jadi saya butuh tempat untuk mencurahkan kekesalan saya >,<

Well, gak salah sih, kalo menggalau atau meragu, selama hal itu nggak berlarut-larut.
Kalau berlarut-larut, yang rugi siapa?
Yaa, kita sendiri laa.. =,=

Galau atau ragu adalah hal yang manusiawi.
Sangat amat manusiawi, malahan :)

Saya juga pernah lah, ngerasa galau atau ragu.
Apalagi tipikal orang moody kayak saya.
Apalagi kalo PMS sedang melanda.
Weeh, bisa jadi orang yang uring-uringan, galau, lalu bisa ketawa, lalu ngambek, cemberut =,=

Tapi, saya bersyukur.
Banyak orang yang masih bisa sayang sama saya, walaupun suka moody-an, terutama di kala PMS :)
Terima kasiih :)

Ngomongin soal "terima kasih", jadi ingat sama lagunya Bon Jovi yang judulnya "Thank You for Loving Me".

Walaupun saya doyan dengar lagu jadul, saya gak tahu sama sekali lho tentang lagu ini.
Sampai seseorang yang saya sayangi tiba-tiba sms di siang hari, mmm.. lupa hari apa tapi.
Tumbeen gitu siang-siang sms, bilang "Coba browsing lagu Thank You for Loving-nya Bon Jovi. Kereeeen.. Lagu itu buat kamuu"

Hahahahaa
So sweet yaa :p

Yang gak tahu lagunya, silahkan di-browsing :)
Saya kasih liriknya aja yaa, kayak biasa :D


Thank You For Loving Me lyrics
Songwriters: Bon Jovi, Jon; Sambora, Richard;

It's hard for me to say the things
I want to say sometimes
There's no one here but you and me
And that broken old street light

Lock the doors
We'll leave the world outside
All I've got to give to you
Are these five words when I

Thank you for loving me
For being my eyes when I couldn't see for
Parting my lips when I couldn't breathe
Thank you for loving me
Thank you for loving me

I never knew I had a dream
Until that dream was you
When I look into your eyes
The sky's a different blue

Cross my heart
I wear no disguise
If I tried, you'd make believe
That you believed my lies

Thank you for loving me
For being my eyes when I couldn't see
For parting my lips when I couldn't breathe
Thank you for loving me

You pick me up when I fall down
You ring the bell before they count me out
If I was drowning you would part the sea
And risk your own life to rescue me, yeah

Lock the doors
Leave the world outside
All I've got to give to you
Are these five words when I

Thank you for loving me
For being my eyes oh, when I couldn't see
You parted my lips when I couldn't breathe
Thank you for loving me

When I couldn't fly
Oh, you gave me wings
You parted my lips when I couldn't breathe
Thank you for loving me

Thank you for loving me
Thank you for loving me
Oh for loving me



So, masih mau meragu dan menggalau lama-lama?
Saya sih nggak mau :p
Yuk, nikmati hari kita :)
Selama bumi masih berputar dan kita masih bernapas, masalah akan tetap ada.
Yang berbeda adalah bagaimana cara kita untuk menjalaninya :)

The problem drives a young boy to a wise man; transforms a little girl to a woman :)
Yessy :)

Selamat malam :)

Kamis, 11 Oktober 2012

Kejujuran yang Pahit vs Kebohongan yang Manis

Kejujuran yang pahit vs Kebohongan yang manis.
Yang manakah yang akan kita pilih?

Secara teori, pastinya kejujuran dong..
Dari kecil kita juga dididik untuk selalu jujur, kan?
Lagipula bohong kan dosa.. Iya kan? Hhihihi

Tapi, kenyataannya..
Apa kita bisa untuk selalu jujur (sesuai dengan teori tadi)?

Well, i don't think so.

Contoh kecil.
Dulu, waktu saya kecil, saya selalu berusaha untuk mendapatkan nilai bagus.
Dan nilai-nilai tersebut selalu saya perlihatkan ke orang tua saya untuk memberitahukan sekaligus meminta pengakuan kalau saya sudah berusaha semaksimal mungkin.
Tapiii, suatu hari, saya mendapatkan nilai jelek.
Pada waktu itu saya bingung.
"Should I show this to my parents?"
Dan tahukah Anda, apa yang saya lakukan?

Saya melipat-lipat kertas ulangan tersebut menjadi kecil dan menyembunyikannya di dalam laci meja belajar saya.
Alasannya?
Simple.
Saya tidak ingin membuat orang tua saya kecewa dan pastinya, takut kena marah! Hahahaha

Dan seperti yang kita tahu, perbuatan buruk yang kita lakukan tapi gak ketahuan, pasti akan selalu dan selalu dilakukan terus-menerus. Walaupun kita tahu itu buruk.

Saya pun jadi merasa nyaman. Iya, keenakan.
Jadi mulai malas belajar.
Toh, kalo dapat nilai jelek, bisa disembunyiin lagi, dulu kayak gitu saya mikirnya.
Hahahaha jadi malu sendiri saya :p

Sampai akhirnya, suatu hari, entah bagaimana, waktu saya SMP, papa bertanya, "Kak, kakak ada dapat nilai jelek ya?"
Oops, berasa aneh rasanya.
Emang sih, waktu SMP nilai-nilai matematika saya jelek semua.
Pokoknya nilai tuntas baru didapat yaa abis ikut remidial. Hikssss :'(

Saya gak bisa jawab. Dieeeeem, pokoknya.
Trus tiba-tiba papa ngeluarin kertas lecek. Leceeek sekali, bekas dilipat-lipat.

Jedeeer!
Berasa kena sambar petir di siang bolong. =,=
Ternyata itu kertas ulangan "terbang" gara-gara tadi malam kemasin bukunya buru-buru.
Hahaha
Kebusukan yang tersimpan rapi selama bertahun-tahun pun terkuak :p

Akhirnya, saya pun mengaku.
Dan papa ternyata saya gak dimarahin.
Cuman dikasi tahu, lain kali jangan begini lagi.
Dan perasaan saya pun jadi lebih plong!
Lebih ringan :) Berasa abis ngaku dosa hhihihi :p

Jadi, sepahit apa pun kejujuran itu, berusahalah untuk tetap mengatakan yang sebenarnya.
Dalam aspek apa pun.
Tapi, mungkin dalam penyampaian juga jangan terlalu blak-blakan.
Takutnya yang menerima tidak terlalu siap malah jadi shock yang gimana juga kan gak bagus juga kan..

Kasus yang saya ceritain di atas sih kasus yang keciiiil banget.
Konsekuensinya gak begitu berarti memang.
Tapi kalo misalnya kita membohongi diri sendiri dan orang lain misalnya, dengan memalsukan diri kita?
Maksudnya kita gak jadi diri sendiri, jadi orang lain.. Menutup-nutupi apa yang seharusnya gak ditutupi..

Cepat atau lambat semuanya juga bakalan kebuka. Suka apa nggak suka.
Makanya ada peribahasa kan..

"Sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga"
Yaah, saya tahu, namanya manusia kan pasti pernah bohong la, gak mungkin nggak.
Karena bohong itu manusiawi.
Tapi coba deh kita pikir.
Ada gak sih, orang yang mau dibohongi?
Gak ada kan?
Saya sendiri lebih memilih untuk disakiti (karena kejujuran) daripada diperlakukan dengan manis (dengan kebohongan).
Soalnya, kalo kita (akhirnya) tahu kenyataan yang ada, sakitnya berkali-kali lipat.
Berasa ditusuk dari belakang gitu :(

Jadi, masih mau bermanis-manis dengan kebohongan?
Atau belajar untuk berani dengan kejujuran yang pahit?

Your choice, you choose :)

Ingat aja, setiap perbuatan selalu ada resiko di belakangnya dan timbal balik di depannya.

So, think before do..

Implusif perlu, tapi gak perlu selalu impulsif juga kan? :p

Always try to be honest :)