Rabu, 01 Oktober 2014

Hello October!


Hello October, please be nice :))
Setelah September yang banyak diawali dengan 'Wake me up when September ends' di banyak media sosial, akhirnya saya pikir ini momen yang pas buat mulai nulis sesuatu di blog ini hehehe #apasih :p

Well, berhubung saya ga pernah nulis cerita di sini, mungkin saya bakalan nyoba buat nulis di sini.
Dan cerita ini baru selesai ditulis beberapa menit yang lalu, dan mungkin agak absurd, jadi harap dimaklumi :)

Enjoy!





Tik tok.... Tik tok....
Suara detik dari jam tanganku terdengar semakin nyaring.
Anehnya, jantungku juga ikut-ikutan berpacu kencang.
Ah, lebih baik mencoba berhitung.
Siapa tahu, bisa normal lagi.
1... 2... 3... 4... 5... 6... 7... 8....

"Eh, udah lama, ya? Aduh, maaf ya, jadi kelamaan nunggu...."
"Gak kok, ini juga baru nyampe."
Tetot! 
Bohong!
Padahal udah nunggu lebih dari 30 menit.
Duduk sendirian di sudut kedai kesukaanku ini.
"Ooh, syukurlah... Itu americano?" tanyanya sambil menunjuk cangkir yang ada di depanku.
"Iya...."
"Ya ampun! Aku juga sama kok ini, tapi pake es sih hehehe"
Lalu kami tertawa bersama.
Bercerita.
Lalu menyesap kopi masing-masing.

Namanya Arin.
Dan dia penuh kejutan.
Bagiku, dia itu seperti bawang.
Berlapis-lapis.
Semakin aku mengenalnya, semakin banyak hal yang tak terduga -- tapi menarik yang akan aku ketahui tentangnya.
Tentu saja, aku semakin tersedot ke dalam pesonanya.

Tik tok.... Tik tok....
Entah mengapa suara detik dari jam tanganku kembali terdengar nyaring di telingaku.
Bahkan lebih nyaring dari sebelumnya.
Dan semakin cepat.
Lalu sekitarku menjadi gelap.

Ya Tuhan, Arin di mana?

"Arin?"
Tak ada jawaban.
"Arin?! Kamu di mana?!"
Masih tak ada jawaban.

Gelap semakin menjadi-jadi, begitu juga dengan dengungan 'tik-tok'.
Rasa lelah menyerangku, ditambah kegelapan dan dengungan 'tik-tok' nyaring yang semakin menyakitkan.

Gelap.
Dengungan.
Tik.... Tok.....

Gelap.
Dengungan.
Tik.... Tok....

Tubuhku terasa ringan, seolah melayang-layang di udara.
Lalu seolah-olah aku terhisap ke dalam suatu membran.
Atau terowongan, mungkin?
Entahlah.

Ingin berteriak, tapi lidahku kelu.
Badanku kaku, walaupun rasanya seringan debu.
Melayang-layang, entah sampai kapan.

Dan aku hanya bisa diam.
Pasrah, lebih tepatnya.
Entah sampai kapan.


#####

Tidak ada komentar:

Posting Komentar