Senin, 06 Oktober 2014

Tian

"Lari!"

Maka aku pun berlari.

Lari sekencang-kencangnya.

Ke kiri, ke kanan, ke mana saja.

 

"Duduk, Lola, ayo ke sini!"

Maka aku pun mendekatinya.

Lalu duduk di sampingnya.

Biasanya dia membelai kepalaku sambil bergumam 'pintar...' sebelum akhirnya dia meraihku ke dalam pelukannya.

 

"Ayo Lola, tangkap bolanya!"

Maka kemudian aku berlari mengejar-ngejar bola yang menggelinding, lalu dengan susah payah kudorong dengan kepalaku ke arah Tian.

Sampai terkadang, aku berharap aku memiliki sepasang tangan agar semuanya jadi lebih mudah.

Seperti Tian.

 

Namanya Tian.

Dan aku menyayanginya.

Aku juga tahu, Tian juga menyayangiku.

Kalau tidak, dia tak akan mengajakku tinggal di rumahnya ini.

Aku ingat waktu pertama kalinya aku bertemu Tian.

Hari itu hujan turun, air tergenang ada di mana-mana.

Di depan sebuah toko aku duduk, berharap ada selimut yang bisa menghangatkanku.

Aku beruntung, pemilik toko tidak mengusirku.

Malah seorang anak kecil sempat membagiku sepotong biskuit manis kepunyaannya.

Lalu Tian datang dengan payungnya yang berwarna merah.

Dia meletakkan payungnya di dekatku, lalu masuk ke toko.

Setelah itu, dia datang memberiku sepotong biskuit sambil mengelus kepalaku.

Kemudian pemilik toko keluar, lalu mereka ngobrol sebentar.

Aku masih terlalu kecil untuk mengerti perkataan mereka.

Kemudian mereka tersenyum ke arahku.

Tian berjongkok, kemudian meraihku ke dalam gendongannya.

Di bawah payung merah itu, kami pulang ke rumahnya.

 

"Lompat, Lola, lompat!"

Aku pun melompat.

Aku bahagia, Tian.

Lalu dalam lompatanku yang terakhir dia menangkapku.

Lalu menggendongku di bahunya.

 

Begitulah sepotong rutinitas soreku.

Aku bermain bersamanya.

Aku berlari, duduk, berguling-guling, melompat, menangkap bola.

Apa pun yang Tian pinta, aku mengikutinya.

 

***

 

Hari ini hujan turun lagi.

Dan sudah tiga hari aku tidak melihat Tian.

Aku merindukan Tian.

Di mana Tian?

Hanya ada ayah dan ibunya di rumah.

 

Seandainya aku sama sepertinya, aku pasti sudah ada di luar sana.

Mencarinya.

Aku akan datang menjemputnya dengan payung merahnya.

Lalu kami akan kembali pulang.

Di bawah hujan.

Dengan payung merahnya.

 

####

2 komentar:

  1. Si tuannya mati ya? Sedih :(...membuatku teringat pada Hachiko...

    Eh kalau ada waktu visit blogku ya kak www.kopifiksi.blogspot.com...tengkyuuu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukan mati sih sebenarnya, cuman 'menghilang' hehe
      Okee, nanti aku buka yaa blogmu :)
      Makasih udah mampir :D

      Hapus